Pakar UPER: Tokoh Adat dan Agama Kunci Efektivitas Komunikasi Bencana Saat Gempa NTT

Pakar UPER: Tokoh Adat dan Agama Kunci Efektivitas Komunikasi Bencana Saat Gempa NTTAsatuUpdate – Rangkaian gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi pengingat pentingnya kualitas komunikasi dalam penanganan bencana. Di tengah ancaman gempa susulan, penyampaian informasi yang tepat dinilai menjadi faktor penentu keselamatan warga.

​Pakar Komunikasi Kebencanaan dari Universitas Pertamina (UPER), Farah Mulyasari, menegaskan bahwa komunikasi risiko saat bencana harus memberikan arah yang jelas tanpa memicu kepanikan publik.

 

​”Pemerintah perlu mengelola ketidakpastian tanpa memicu kepanikan, sambil tetap menjaga kepercayaan publik,” ujar Farah dalam keterangannya, Sabtu (29/8/26).

​Farah menjelaskan, kecepatan penyampaian informasi memang krusial pada masa krusial penyelamatan (golden time). Namun, kecepatan tersebut menjadi tak efektif apabila masyarakat tidak memahami tindakan selanjutnya.

​”Kecepatan adalah pembuka pintu keselamatan, tetapi instruksi yang jelas, terpercaya, dan spesifiklah yang benar-benar dapat menyelamatkan nyawa,” kata dosen Program Studi Komunikasi UPER tersebut.

​Bahasa Sederhana dan Orientasi Actionable

​Farah menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, dan berorientasi pada tindakan (actionable) dalam pesan kebencanaan.

​Informasi tidak boleh berhenti pada kondisi gempa semata, tetapi harus memuat arahan konkret mengenai lokasi aman, prosedur evakuasi, serta rujukan sumber informasi resmi. Hal ini dinilai efektif mencegah maraknya rumor atau hoaks saat situasi darurat.

​Peran Tokoh Lokal sebagai Cultural Translator

​Selain kanal resmi pemerintah dan BMKG, keterlibatan tokoh agama, tokoh adat, aparat desa, serta relawan lokal dinilai menjadi kunci vital, khususnya untuk wilayah NTT dengan kondisi geografis dan akses komunikasi yang beragam.

​”Pemerintah dan BMKG menyediakan data yang akurat. Namun, tokoh agama, adat, dan relawan berperan sebagai cultural translator untuk mengubah informasi teknis menjadi tindakan penyelamatan nyata di lapangan,” tuturnya.

​Saat jaringan internet terganggu, media tradisional seperti radio komunitas, pengeras suara tempat ibadah, hingga jalur komunikasi antarwarga tetap menjadi sarana efektif dalam menjangkau masyarakat secara luas.

​Evaluasi Sistem Komunikasi Nasional

​Farah menilai fenomena gempa di NTT harus dijadikan momentum untuk memperkuat sistem komunikasi kebencanaan secara nasional. Sistem ini tidak boleh hanya bertumpu pada teknologi, melainkan harus terintegrasi dengan kekuatan sosial masyarakat.

​Perspektif tersebut, lanjut Farah, juga diterapkan dalam kurikulum Program Studi Komunikasi UPER lewat mata kuliah Komunikasi Kebencanaan. Pembelajaran ini dirancang untuk membekali mahasiswa memahami strategi komunikasi mulai dari tahap mitigasi, respons darurat, hingga pemulihan pascabencana.

​”Komunikasi kebencanaan dikatakan berhasil apabila mampu menggerakkan masyarakat melakukan tindakan penyelamatan nyawa secara mandiri, tepat, dan teratur,” kata Farah. (*/Joh).

 

Pos terkait